Dua minggu yang terasa lama sekali. Mungkinkah dia akan lahir dalam waktu dua minggu lagi? Apakah akan lebih cepat, atau lebih lambat? Tidak seorang pun bisa memastikannya. Menurut buku What to Expect, jangan percaya kalau dokter mengatakan dia tahu pasti kapan si bayi akan lahir. Ini rahasia Tuhan yang disimpan sangat rapat, seperti ujung takdir yang satunya: kematian.

Pada minggu-minggu ini pertumbuhan janin tidak lagi pesat, organ tubuhnya sudah lengkap. Alat pernapasannya sudah siap untuk mengantar dia hidup di luar janin. Penglihatan dan alat indera lainnya sudah selesai. Sel otak juga siap dengan synapses yang tinggal menunggu stimulus dari luar untuk mengembangkan jaringannya. Semoga dia tumbuh normal dalam segala sesuatunya. Saat ini dia hanya bertambah berat, menebalkan lapisan lemak untuk menahan suhu badannya, bulu-bulu halus lanugo di tubuhnya mulai rontok kecuali di bagian atas bahu dan punggung, dia mulai mendesak turun ke jalan lahir. Yang perlu dipantau pada minggu-minggu terakhir ini adalah gerakannya, adakah normal, bertambah atau berkurang.

Saya pun sudah menyiapkan diri untuk berangkat ke rumah sakit sewaktu-waktu. Koper diisi lengkap dengan kebutuhan selama menginap di rumah sakit, surat-surat dan daftar nomor telepon. Perlengkapan untuk menitipkan Hanifa di rumah Mbak Wiwit. Saya bahkan sudah menyelesaikan order terjemahan Mizan yang deadlinenya masih satu bulan lagi. Yah, memang, ini seperti menyongsong sebuah jihad, kata Mbak Yani. Entah apa yang akan terjadi. Ambil risiko. Hanya itu jalan yang mengantar kita pada sebuah keadaan lain, perubahan, pertumbuhan.

Tidak ada komentar: