Rambut Rasyad di bagian mahkota sudah tumbuh lebat. Kulit kepalanya di situ sudah tidak terlihat. Saya kira itulah alasan dia tidak suka bertopi. Sayang, kan (ehmm!). Tapi rambut di bagian belakangnya tipis, sepertinya tidak tumbuh sejak dipotong habis ketika dia berusia dua minggu. Model rambutnya jadi seperti tempurung. Rambut-rambut halus di sisi kiri dan kanan wajahnya juga rontok. Garis alis matanya semakin kelihatan dan bulu matanya yang agak lentik juga bertambah banyak.

Dari hari ke hari badannya makin besar. Membandingkan dia sekarang dengan fotonya satu bulan yang lalu, terasa sekali perbedaannya. Rasanya ajaib bahwa dia bisa membesar begitu cepat, padahal dia hanya minum. Ada pakaian yang sekarang mulai kekecilan. Kakinya yang tadinya tidak muncul di ujung baju itu, sekarang jadi kelihatan panjang. Sudah lama dia tidak memakai baju model kimono. Kakinya yang aktif menendang-nendang butuh baju yang bercelana.

Jadwal mandinya sekarang sudah kembali ke pagi. Rupanya tidak mudah menanamkan sebuah kebiasaan baru. Mandi malam terasa lebih repot dan sulit karena sering bentrok dengan jadwal ngantuk.
Wajah Rasyad sangat kotor dan kasar sekarang ini. Bersisik dan penuh bintik-bintik merah. Kulit kepalanya juga kotor. Kelenjar kulit kepalanya sedang mengeluarkan cairan kuning yang kemudian mengeras, membentuk lapisan bersisik (istilahnya cradle cap). Bayi pada saat begini hanya tampak menarik di mata orangtuanya.

Bintik merah di mukanya itu hilang timbul. Hari ini bisa tampak bersih, tapi besok muncul lagi. Sepertinya tidak ada obat yang mempan menuntaskannya, yang bisa kita lakukan hanya membersihkannya dan menjaga agar kulitnya tidak kering. Saya mengolesi kulit kepalanya dengan baby oil setiap kali sebelum mandi supaya lapisan yang mengeras itu jadi lunak dan mudah lepas ketika dikeramas. Untuk kulit mukanya saya mencoba bermacam-macam olesan, vaseline, salep dari dokter, baby oil juga, krim bayi dan baby lotion. Tapi keadaannya begitu-begitu saja. Ini seperti tindakan seorang yang panik, ingin mencoba apa saja untuk menyembuhkan penyakit, padahal mungkin sekali bintik merah itu disebabkan oleh hormon, sehingga memang harus timbul dalam periode tertentu dan bakal sembuh sendiri setelah periode itu lewat. Saya hanya takut mengulang pengalaman saat Hanifa seusia Rasyad sekarang. Bintik merah itu berubah jadi luka eczema yang gatal dan basah.

Wajah bayi sering kelihatan berubah-ubah. Kalau menurut ayahnya, Rasyad mirip Kim Yong Il, presiden Korea utara itu, dalam versi bayi, apalagi ketika lagi dimandikan dengan rambut atasnya yang jadi agak ikal karena basah. Di lain waktu dia jadi mirip raja Thailand, kalau rambutnya disisir rapi ke kanan. Dia juga bisa kelihatan mirip bayi teman-teman yang lain. Bayi seumur ini memang bisa kelihatan saling mirip, apalagi sesama bayi 'melayu'. Dia akan tampak sangat berbeda kalau disandingkan dengan bayi Jepang. tapi sekarang saya makin melihat kemiripannya dengan ayahnya.

Tapi ada komentar yang bikin saya tersenyum dari dua kenalan Jepang. Kobayashi-sensei dan Katsura-san sama-sama bilang bahwa wajah Rasyad itu otoko rashii, kelihatan laki-lakinya. Ya, dia memang laki-laki!

Rasyad mulai menemukan tangannya. Dia suka memasukkan tangannya ke mulut, menggigit-gigit atau menghisapnya seperti anjing menggerogoti tulang. Kalau dia lagi sendirian, tiba-tiba terdengar bunyi decak-decak lidahnya yang lagi asyik memakani tangan sendiri, seperti makanan yang sangat lezat.
Dia mulai bisa tersenyum! Bukan jenis senyuman yang tidak disengaja itu, karena sekarang matanya pun seperti ikut tersenyum. Dia tersenyum melihat orang-orang di sekitarnya, dia senyum menanggapi suara kita berbicara, dia senyum melihat Hanifa menyanyi dengan suara keras di depannya.



Senyumnya bervirus, orang yang melihatnya langsung tertular ikut tersenyum. Hanifa jadi suka memancing senyumnya, dia bernyanyi, menari, dan mencoba menggelitik. Kalau Rasyad jadi tersenyum, dia tambah senang dan mengulang lagi perbuatannya.

Senyum bayi itu, walapun hanya sepintas, begitu menyegarkan, kadang membuat ge-er, kita pikir dia senyum hanya untuk kita, dan karena kita. Hanifa kadang jadi grogi kalau dilihat lama-lama dan dihadiahi senyum oleh Rasyad.
Melihat lagi semua kekhawatiran yang pernah hinggap dalam pikiran dan meresahkan hati selama hamil, saya jadi keheranan, betapa sangat tidak beralasan dan sangat berlebihan semua kekhawatiran itu. Saya pernah khawatir bahwa janin yang tumbuh ini tidak punya tangan dan kaki, setelah melihat hasil USG pertama di pekan ke sepuluh. Saya pernah cemas dia akan tumbuh menjadi bayi mongoloid karena saya minum suplemen vitamin tanpa berkonsultasi pada dokter. Saya pernah juga takut kalau dia tidak bertumbuh di dalam. Bahkan sampai pekan-pekan terakhir, setiap kali habis dipeirksa dan mendapat informasi tentang pertumbuhannya, saya segera mencari data pembanding di Internet untuk angka-angka ukuran yang diberitahu dokter. Terlalu banyak kecemasan selama masa hamil itu. Itulah salah satu alasan saya untuk mencukupkan pengalaman ini hingga dua kali saja.

Tapi segala kecemasan itu sungguh tidak perlu. Tidak satu pun yang terbukti kebenarannya. Rasyad lahir sebagai bayi yang sehat, normal, anggota badannya lengkap, matanya bisa melihat, telinganya bisa mendengar, jantungnya berdetak, dan tangisannya bisa meledak keras. Bahkan kecemasan saya soal siapa yang akan menjagai Hanifa pada saat saya melahirkan dan Mas Budi menemani saya di ruang bersalin, juga terbukti tidak perlu. Hanifa bisa ikut masuk ke ruang persiapan kelahiran dan dia bersikap sangat baik, mau menunggu dan tenang sepanjang malam itu.

Melewatkan masa hamil dengan penuh kecemasan itu hanya membuat gelisah yang makin memberatkan pikiran dan perasaan sendiri. Tapi teman-teman saya juga mengalami hal yang sama. Mereka juga punya kecemasan, ada yang tersembunyi, ada pula yang ditampakkan. Barangkali kecemasan memang teman akrab para ibu di masa-masa hamil. Sudah satu paket dengan keadaan itu. Barangkali fungsi kecemasan itu adalah untuk menjaga diri para ibu itu agar mereka menjauhi hal-hal ekstrem yang bisa membahayakan janin.
Apakah cara bayi menangis bisa menunjukkan kepribadiannya? Saya hampir yakin bahwa itu benar karena menangis adalah satu-satunya cara bayi mengkomunikasikan keinginannya. Ketika berada di rumah sakit, saya mendengar beragam suara tangisan bayi. Di tengah malam, jeritan tangis mereka memecah sunyi seperti meong kucing, ada yang melengking tinggi, ada yang menangis berkepanjangan. Semuanya seolah-olah menunjukkan perbedaan kepribadian mereka masing-masing.

Hanifa termasuk bayi yang paling banyak menangis di antara bayi-bayi yang lahir bersamaan dengan dia. Ketika dijejer di ruang bayi pada jam kunjungan, Hanifa sering kelihatan menangis meraung-raung, sementara bayi-bayi lainnya lelap tertidur. Sangat berbeda dengan Rasyad sekarang. Rasyad justru termasuk bayi yang sangat tenang dan jarang menangis dibanding bayi-bayi lain yang seangkatan dengan dia waktu di rumah sakit. Dia masih bisa tidur dengan tenang ketika suara tangisan bayi-bayi lain begitu keras di sampingnya. Tapi begitu dia menangis, lengkingannya langsung mengambil nada tinggi yang mengejutkan, tanpa banyak pendahuluan. Cara menangisnya ini membuat saya merasa geli, karena dia seperti tiba-tiba marah dan ingin mendapatkan apa yang diinginkannya sekarang juga, tanpa ditunda-tunda lagi. Cara menangis yang tegas. Begitu dia mendapatkan apa yang dia butuhkan, tangisannya langsung reda, dia tidak berpanjang-panjang lagi dalam keluh kesahnya. Cepat merasa puas.

Entah karena cara menangisnya ini, saya merasa jiwa yang menyusup ke dalam tubuhnya adalah sebuah jiwa yang tua, jiwa yang dewasa. Ini bukan jiwa dalam pengertian usia, tapi semacam pembawaan atau tipe yang mencirikan kepribadiannya. Rasyad sepertinya berpembawaan lebih tenang daripada Hanifa. Ini tentunya sebuah simpulan yang terlalu tergesa. Hanya perasaan. Barangkali salah. Pada Hanifa, saya merasakan jiwa yang lebih muda dibanding Rasyad. Saya merasa berjiwa setara dengan Hanifa, tapi jiwa Rasyad terasa seperti lebih tua daripada saya. Yah, perlu bertahun-tahun untuk melihat kebenaran simpulan ini.
Kalau sedang menggendong Rasyad, saya punya dorongan yang nyaris tidak tertahankan untuk membersihkannya. Saya memeriksa lipatan leher dan genggaman tangannya untuk mengeluarkan debu yang sering terselip di situ, membersihkan kotoran di telinga dan hidungnya, mengoleskan krim ke wajahnya yang berbintik-bintik merah, menyisir rambutnya untuk menyapu kulit kepala yang mengelupas, atau mengelap sudut matanya yang sering basah. Kesempatan resmi untuk melakukan itu adalah setelah dia dimandikan. Tapi saya sering juga melakukan setiap kali menggendongnya. Dia sepertinya tidak suka itu. Sering dia berusaha mengelakkan tangan saya, menjauhkan wajahnya atau berteriak protes ketika saya melakukannya, seperti sedang berkata, "Huh, apa lagi sih, sudah cukup!"

Mungkin memang berlebihan. Karena, selama kenyamanannya tidak terganggu, tindakan membersihkan ini itu sedemikian nyinyir sebenarnya tidak perlu. Hanya untuk memenuhi keinginan kita sendiri yang senang melihat bayi yang berpenampilan bersih dan cantik seperti di iklan.

Saya juga suka sekali menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang asli. Saya nyaris tidak pernah membedaki dan mengolesi badannya dengan minyak telon--gabungan bau bedak dan minyak telon itu akan menghasilkan aroma yang khas dan seragam pada bayi--jadi, bau badannya masih asli dan unik. Mulutnya pun punya keharuman khas yang suka saya hirup dalam-dalam ketika dia sedang menguapkan kantuk. Menggendongnya, sambil memandangi, membelai dan menciumnya, saya bayangkan Tuhan tersenyum melihat betapa saya mengagumi paket yang baru datang dari langit ini.
Rasyad mulai sadar tentang lingkungan sekitarnya. Tidak lagi seperti pekan-pekan awal kelahirannya, ketika dia seolah-olah tidak bisa menginderai apa-apa, bahkan mungkin tidak tahu tentang keberadaan dirinya sendiri. Dia hanya bisa merasakan kebutuhan dasarnya, seperti rasa ngantuk, lapar, dan rasa tidak nyaman. Matanya melihat, tapi tidak menatap. Tangannya menyentuh sesuatu tapi tidak bisa menggenggam.

Sekarang dia mulai menatap wajah kita, meski masih belum bisa membalas senyuman. Dia paling tertarik melihat mata dan gerak bibir kita ketika bicara. Barangkali seperti kamera yang mulai tajam fokusnya, kini semua objek berjarak dekat terlihat jelas dalam pandangannya. Atau lebih tepatnya lagi, seperti seorang yang baru bangun dari tidur nyenyaknya, karena yang terjaga sepertinya bukan hanya pandangan matanya, tetapi juga seluruh indera dan daya pencerapannya, bahkan jiwanya. Kini dia sudah melangkah keluar dari alam mimpi ke alam nyata, matanya bukan lagi menatap malaikat-malaikat.

Matanya membuka lebih lebar ketika sebuah benda berwarna cerah digerak-gerakkan di depan wajahnya, dia ingin mengamati baik-baik benda itu dengan tatapan seperti kucing yang akan menerkam tikus. Di samping tempat tidurnya kini saya gantungkan sebuah poster panjang dengan gambar-gambar berwarna kontras. Dia suka melihat gambar-gambar itu. Dia juga mulai bisa menggerakkan kepala ke arah sumber bunyi, tapi belum bisa menggerakkan tangannya dengan sengaja untuk mengambil benda yang mengeluarkan bunyi itu--itu kemampuan di tahap berikutnya.