Hari-hari terakhir menjelang kelahiran. Badan semakin terasa tidak nyaman. Melangkah terasa berat, duduk tidak bisa berlama-lama, untuk bangkit kembali butuh penyangga. Perut bagian bawah sering nyeri, pangkal paha seperti mendapat tekanan yang kuat sehingga kaki-kaki perlu sedikit membuka lebar ketika berjalan dan digerakkan dengan pelan, atau bahkan berhenti sebentar untuk menunggu denyut-denyut nyerinya hilang. Saya kadang-kadang merasa seperti sudah akan melahirkan dalam beberapa jam lagi, karena rasa nyeri yang sesekali muncul itu membuat saya teringat saat saya melangkah masuk ke ruang bersalin pada dini hari menjelang melahirkan Hanifa.

Hari-hari ini saya berusaha mengingat kembali peristiwa apa saja yang mendahului proses bersalin yang pertama itu. Tidak ada catatan, saya hampir melupakannya. Yang paling jelas saya ingat adalah peristiwa pada Senin malam menjelang tidur, keluarnya cairan bening yang cukup banyak. Saya panik, membangunkan Mas Budi. Dalam ketidaktahuan kami menduga bahwa itu adalah air ketuban. Kami menelepon ke Padang dan diberi tahu bahwa pecahnya ketuban berarti kelahiran sudah dekat, saya harus segera dibawa ke rumah sakit. Tapi kalau itu air ketuban, alirannya tidak akan berhenti. Kontraksi belum terasakan. Kami menghubungi rumah sakit dan datang ke sana setelah subuh. Pemeriksaan oleh suster menegaskan bahwa saya baru mengalami bukaan dua, dan cairan yang keluar itu bukanlah air ketuban. Mungkin itu yang disebut mucuous plug.

Saya berusaha mengingat lagi apa yang terjadi pada pagi atau sepanjang hari sebelum kebocoran malam itu. Rasanya saya tidak mengalami sesuatu yang bisa disebut sebagai tanda-tanda menjelang kelahiran. Sekali lagi, karena tidak ada catatannya saya sulit mengingat dengan persis. Tidak ada yang terlalu berkesan. Tapi barangkali ini indikasi bahwa mungkin memang tidak terjadi apa-apa pada hari itu. Semua berlangsung biasa, saya tidak mengalami rasa sakit yang mengganggu atau melihat bercak darah. Atau iya? Saya tidak terlalu ingat, tapi rasa-rasanya ada bercak darah satu atau dua hari sebelumnya. Mungkin. Ada sedikit ingatan tentang peristiwa yang seperti itu, yang rasanya terlepas dari waktu tapi pernah saya alami. Barangkali kedua peristiwa itu terkait. Sedikitnya ini memberi saya petunjuk untuk mewaspadai tanda-tanda seperti munculnya bercak darah dan lendir bening mendahului kontraksi.

Kemarin malam, ketika badan saya terasa begitu capek dan nyeri perut terasa seperti awal kontraksi, saya membayangkan apa yang mesti saya lakukan pertama kali kalau ternyata persalinan akan terjadi besok. Persalinan kedua, konon, bisa berlangsung lebih cepat. Kalau kontraksi mulai terjadi di awal malam, mungkin saja dalam 4-5 jam kemudian bayi akan lahir. Kami harus cepat bertindak.

Yang paling saya khawatirkan adalah bagaimana dengan Hanifa. Saya harus mempersiapkan dia untuk dititip di tempat teman, membuat suasana hatinya sedikit tenang tentang masa penantiannya di sana. Dia kelihatan sedih sekali setiap kali bertanya soal ini. Kalimat yang sering diulangnya, "Tapi kan Hanifa ingin ketemu ibu waktu ibu melahirkan." Ini harus dijalani, pahit, pedih, berat, dan mudah-mudahan hanya singkat.

*** Catatan: Hari ini, pada pukul satu pagi tadi, telah lahir anak keempatnya Mbak Yani (perempuan 2,718 kg 49 cm)--teman seperjuangan di masa hamil, bersama Via yang sudah melewati proses bersalinnya lebih awal lagi, tanggal 4 Februari. Kami bertiga bergiliran melahirkan dalam bulan ini.

Tidak ada komentar: