Bayiku

Memandang wajahmu, aku berangan-angan tentang suatu hari
ketika kau telah dewasa, sibuk mencari tempatmu di dunia,
menjelma seorang pemuda yang selalu memanggilku bunda.
Di manakah engkau saat itu,
dekatkah sehingga untuk bicara setiap hari
kita hanya perlu mengetik daun pintu,
jauhkah sehingga untuk mendengar suaramu
aku perlu menekan beberapa tombol angka
Memandang wajah teduhmu, aku yakin
Tuhan tidak akan pernah bosan mengirim lagi seorang manusia baru
untuk pelipur bagi dunia yang kian penuh nestapa
Mengingat kerinduanku nanti,
aku ingin membenamkan wajahku dalam-dalam di lekuk lehermu kini

Tidak ada komentar: